"Kemaren kamu dengan siapa?" Tanya Rea.
"Siapa? Kapan?" Jati balik bertanya.
"Kemaren siang di mall," jawab Rea dengan murung
sambil mengaduk-aduk makanannya seolah enggan untuk memakan makanan itu.
"Ouh.. Cuman temen biasa," kata Jati dengan
santai. Ia menghentikan makannya, lalu minum.
"Temen kok pake meluk-meluk." Kali ini Rea
meletakkan sendok makannya setengah membanting. Sepertinya dia kehilangan nafsu
makannya.
Jati melap bibirnya, sepertinya dia juga kehilangan selera
makannya. Dia diam sejenak lalu berdiri. "Ayo kita pulang," kemudian
Jati beranjak pergi tanpa memperdulikan Rea yang sedang merajuk.
"Jati!" Teriak Rea kesal. Dia tetap diam di
tempatnya, tak mengikuti Jati yang telah pergi lebih dulu. Berharap Jati akan
kembali menariknya untuk pulang. Dan dia baru akan mau pulang mengikutinya
setelah Jati meminta maaf.
-=(f)=-
"Apa? Kamu ninggalin dia sendirian di restoran? Kenapa
Mas Bro? Kamu gak kasian apa sama dia?" Cerca Tama sahabat Jati.
"Dia tahu aku jalan sama cewek lain," jawab Jati
santai sambil menyeruput kopinya.
"Cewek lain? Siapa?"
"Bukan siapa-siapa."
"Terus apa hubungannya dengan kamu tinggal dia
sendirian?"
"Memangnya mau apa lagi? Makan sudah gak enak, ngomong
juga gak nyaman. Ya mending aku ajak pulang, tapi dia gak mau. Ya aku tinggal
aja. Aku kan sedang capek."
"Aku gak ngerti Mas Bro sama kamu." Tama menopang
dagu dengan kedua telapak tangannya dengan bibir cemberut dan kening berkerut.
"Jangan pusing hanya gara-gara cewek. Aku aja gak
pusing." Jati berdiri lalu beranjak pergi hendak ke kamar tidurnya setelah
menepuk pundak sahabatnya dan berkata, "semua cewek itu sama saja."
-=(f)=-
"Gimana menurut kamu Re..?" Tanya Lita sahabat Rea
di suatu siang di sebuah butik milik Rea.
"Kelihatannya bagus. Tapi mungkin aku mau
mempelajarinya lebih lanjut," kata Rea sambil memegang sebundel berkas.
"Bener nih Re? Wah.. Ini yang aku suka. Oke deh, aku
tunggu keputusanmu aja. Apapun kata kamu nanti, itu deh yang aku ambil. Soalnya
prediksi kamu kan tokcer. Hehehehehehe."
"Sialan. Kamu pikir aku tukang ramal apa?" Canda
Rea. "Eh, gimana kamu sama Aji? Kapan kalian nikah? Ntar aku buatin gaun
yang spesial deh."
"Ah, kamu nih Re.. Baru juga berapa bulan kita
kenal."
"Loh.. Kalo udah ngerasa cocok, kenapa gak nikah aja..?
Aku lihat kalian udah lengket banget gitu."
"Ya gak secepat itu lah.. La kamu sendiri gimana? Masih
ngejomblo aja."
"Yah... Belum dapet yang cocok."
"Hemh.. Dari dulu aku tuh bingung yang cocok sama kamu
tuh yang kayak gimana?"
"Hehehe... Nanti juga kamu tahu kalo aku udah
dapet."
"Yah... Aku doain cepet dapet aja deh. Eh, Tapi... Aku
jadi ganggu kesibukan kamu sendiri dong kalo kamu bantu aku? Aku kan tahu
gimana caranya kamu mempelajari yang kayak gituan. Udah kayak mata-mata
aja."
"Hahahahahahahahaha... Justru karena itu lah aku mau
bantu kamu. Udah lama aku gak beraksi jadi mata-mata hahahahahahahaha. Yah...
Mumpung aku sedang gak terlalu sibuk. Lagian aku juga butuh keluar cari
inspirasi."
"Ya udah kalo gitu, ayok kita keluar."
"Apa?"
"Ya! Ayo kita keluar jalan-jalan. soalnya aku sendiri
juga butuh refreshing nih. Sumpek juga di kantor terus. Ayooo..." Lita
langsung menarik tangan Rea.
"Eh, kamu nih yah. Gak usah pake narik-narik
napa."
Lalu mereka pergi meninggalkan sebundel berkas di meja.
Berkas yang kemudian mempertemukan Rea dengan Jati.
-=(f)=-
Begitulah cara Rea melakukannya, sudah seperti mata-mata
saja dia menyelidiki tentang Jati dan usahanya yang saat itu baru mulai
meningkat.
Hampir semua tentang Jati dia ketahui. Bahwa Jati hanya
tamatan SMA itu pun karena dibantu orangtua sahabatnya, sedang kedua orangtua
Jati sendiri sudah tiada. Awalnya Jati hanyalah pengangguran miskin yang tidak
mempunyai banyak teman dan seorang sahabat yang selalu membesarkan hatinya dan
membuatnya bangkit berkali-kali. Dengan kerja kerasnya yang luar biasa, dibantu
sahabatnya itu akhirnya dia bisa mempunyai usaha sendiri yang kini cukup
berkembang.
Dalam suatu kesempatan yang tidak terduga saat itu Rea
berada di depan rumah Jati, Dia ingin melihat secara langsung rumah Jati. Rumah
sederhana yang terlihat nyaman dengan pagar kayu rendah dan rumput hijau
terawat di halamannya. Ketika Rea hendak menyeberang untuk melihat lebih dekat
rumah itu, sebuah mobil dengan kecepatan tinggi melesat di depannya hampir saja
menyerempetnya jika saja Rea yang terkejut tidak secara reflek mundur ke
belakang. Meski demikian Dia menjadi kehilangan keseimbangan dan jatuh.
Jantung Rea berdebar-debar entah karena peristiwa yang baru
saja Dia alami atau karena saat ini Dia melihat seorang laki-laki yang
menangkapnya sehingga Dia tidak jadi jatuh. "Anda tidak apa-apa?"
Tanya laki-laki itu tersenyum.
Rea tersadar setelah beberapa saat terdiam. "Ah...
Tidak apa-apa," katanya buru-buru bangun dengan perasaan malu.
"Saya minta maaf untuk orang dalam mobil itu. Dia
adalah Tama sahabat Saya. Saya pasti akan peringatkan Dia. Dasar Tama."
Kata laki-laki itu ketus.
"Ouh... Hampir saja."
"Sekali lagi Saya minta maaf. Dan maaf, Saya perhatikan
sepertinya Anda mengamati rumah itu?"
"Ah.. Tidak... Saya cuman mengagumi rumah itu saja.
Menurut Saya rumah itu menarik."
"Benarkah.. Kalau begitu bagaimana kalau kita masuk ke
dalam?" Ajak laki-laki yang tidak lain adalah pemilik rumah itu sendiri,
Jati.
"Jadi itu rumah Anda?" Rea menunjukkan dirinya
seolah-olah terkejut, meski sebenarnya Dia telah mengetahuinya.
Begitulah awalnya mereka bertemu. Awal yang cukup berkesan
bagi Rea. Menurut Rea, Jati adalah seorang yang menarik. Laki-laki yang pada
dasarnya tidak suka berbasa-basi namun tetap bisa menyesuaikan diri. Banyak
yang bisa Rea ketahui tentang Jati tanpa Rea memberitahu maksud sebenarnya
kedatangannya.
"Cukup," pikir Rea. Lalu Rea pamit pulang setelah
merasa mendapatkan apa yang Dia perlukan. Bahkan Dia merasa telah mendapatkan
lebih dari itu, mengetahui semua tentang Jati meski sebenarnya tidak semua.
"Gimana Mas Bro?" Tiba-tiba Tama muncul setelah
kepergian Rea.
"Sepertinya rencana kita berhasil." Senyum Jati
merekah.
"Sip lah kalau begitu. Kita pasti dapet proyek besar.
Yes! Sekaligus kamu dapet pacar cantik Mas Bro, hehehehehehe." Tama
terlihat begitu senang. Sedang Jati hanya tersenyum.
Dan memang benarlah, akhirnya tawaran kerjasama Jati
disetujui. Kedua perusahaan pun saling bekerja sama, dan dalam waktu singkat
saja semakin berkembang pesat.
Begitu juga dengan hubungan Rea dan Jati. Betapa Rea telah
merasa mendapatkan perlakuan dan tempat istimewa oleh Jati. Meski Rea sering
melihat Jati dengan wanita lain, toh Dia tidak curiga ketika Jati bilang hanya
teman biasa saja. Malah semakin membuat Rea yakin bahwa dirinya tidak biasa
saja untuk Jati. Sampai Dia melihat di siang itu Jati begitu mesrahnya berjalan
dengan seorang wanita sambil memeluknya.
-=(f)=-
"Sebenernya dia menganggap aku ini apa sih..?"
Tanya Rea lirih kepada Tama siang itu di alun-alun siring laut. Pertanyaan yang
seolah ditujukan untuk dirinya sendiri.
Siring laut kota dengan pemandangan lautnya yang indah dan
anginnya yang kencang mengibar-ngibarkan rok panjang gadis itu, tidak mampu
mengusir kegalauan hatinya.
"Kenapa kamu gak tanya langsung sama dia?" Jawab
Tama sambil menghisap puntung rokoknya yang begitu cepat memendek terbakar
dibantu angin laut. "Tapi mungkin, dia menganggap kamu seperti kebanyakan
wanita-wanita lain yang pernah dikenalnya terutama saat dia belum seperti
sekarang ini."
"Maksud kamu? Wanita seperti apa itu?"
"Wanita-wanita yang tidak menganggap cinta seorang
laki-laki miskin. Karena itu aku tidak bisa menyalahkannya, meski aku juga
kasihan dengannya. Jutru sebenarnya aku berharap sama kamu. Itupun jika kamu
bukan termasuk wanita seperti itu." Lalu Tama pergi meninggalkan Rea
seorang diri setelah menggesekkan ujung puntung rokoknya pada pagar putih
tempatnya bersandar kemudian membuangnya.
-=(f)=-
"Jati! Jadi kamu ada di sini?!" Teriak Rea yang
memergoki Jati sedang berduaan dengan seorang wanita yang berbeda lagi. Kali
ini di taman kota saat Rea benar-benar bingung karena tidak dapat menghubungi
Jati seharian ini sedang Tama juga tidak tahu kemana Jati pergi. Dia memergoki
ketika Jati hendak mencium wanita itu.
"Eh, Rea." Kata Jati dengan suaranya yang datar
dan biasa saja.
"Aku mau bicara sama kamu. Tapi sebelum itu. Aku minta
kamu usir wanita itu!" Kata Rea dengan nada tegas.
"Loh? Memangnya kenapa aku harus usir dia?"
"Karena aku tidak seperti dia!" Jawab Rea dengan
suara agak keras.
Akhirnya Jati pun menuruti kata Rea dengan menyuruh wanita
itu pergi dengan memberinya sejumlah uang yang rasanya terlalu banyak jika
dikatakan untuk naik taksi, meski Jati bilang begitu. Dan kini hanya tinggal
mereka berdua.
"Apa yang mau kamu katakan?" Jati kembali membuka
percakapan setelah mereka terdiam beberapa saat.
"Sudah aku katakan." Jawab Rea singkat dengan
wajah murung dan tatapan kosong membuang wajahnya dari pandangan Jati.
Lalu Jati menarik wajah Rea dalam tatapannya. Wajah mereka
bertemu, mata mereka bertemu. Wajah yang begitu cantik, mata yang begitu indah
sungguh membuat Jati terpesona. Perlahan wajah Jati mendekat dan mendekat.
Hanya tinggal satu gerakan mendekat saja Jati pasti mencium Rea jika saja Rea
tidak mendorong Jati lalu menampar wajahnya.
Jati terkejut. Ia seperti orang yang disadarkan setelah
pingsan bertahun-tahun. Ia sadar bahwa ada sesuatu yang menetes di sana, di
kedua mata Rea. Sebelum akhirnya Ia sadar, bahwa Rea telah pergi
meninggalkannya seorang diri. Seperti dulu Ia sendiri dalam tangis.
2 februari 2012, fil
Tidak ada komentar:
Posting Komentar