Geng-geng kota (2)

2

“bagaimana keadaanmu…?” tanya pria berkacamata bening itu, menanyakan keadaanku yang saat itu sedang terbaring di rumah sakit… “sudah mendingan…” jawabku… “baguslah…” katanya kemudian,..

“jadi kamu yang sering bertarung dan dibicarakan para geng-geng itu ya…?” tanyanya… “ah… sebenarnya aku tidak mau berurusan dengan mereka… hanya saja aku tidak bisa tinggal diam saja jika ada orang yang membutuhkan pertolongan…” jawabku… “oh… begitu…” katanya kemudian…

“ya sudah… sepertinya keadaanmu sudah cukup baikan… kalau begitu aku mau pergi dulu…” katanya seraya bangkit dari tempat duduknya kemudian berpaling akan meninggalkan ruangan itu…

“hei..! tunggu dulu… siapa kamu...?” tanyaku… “paling tidak aku ingin tahu siapa nama orang yang telah menolongku, kalaupun mungkin aku tidak bisa membalas kebaikannya…” lanjutku lagi…

“hummhhh… mereka memanggilku… fighter…” jawabnya… kemudian pergi meninggalkan ruangan itu…

^(-.-)^

Pria itu bilang ‘mereka’… berarti para geng-geng kota pasti tahu siapa dia… maka aku putuskan untuk mencari tahu siapa pria itu dengan bertanya pada geng sekolahku saja… Akupun menuju markas mereka yang merupakan gudang sekolah…

Setibanya di sana mereka terkejut melihatku… “eh… lo..! mau apa lagi lo…?” tanya salah seorang dari mereka ketus dengan wajah juteknya… “nggak… aku cuman mau tanya aja ko… kenapa..? nggak boleh tah…?”

“denger-denger… lo dikalahin ma ricky yah…? Bosnya geng kolor ijo… huahuahuahua… akhirnya sang jagoan ambruk juga…” kata salah seorang yang lain… “tapi… ko, lo belum mampus sih...? banyak juga nyawa lo...” lanjutnya lagi…

“yah… bener… tapi terus aku ditolong ma seseorang… aku tanya siapa dia… dia bilang… ‘mereka panggil aku fighter’ gtu…” kataku…

“hah..! fighter…” kata salah seorang diantara mereka, dan sepertinya wajah teman-temannya pun tampak terkejut mendengar nama itu…

“kenapa…? Kalian kenal yah ma dia...? umhh… mang siapa seh dia...?” tanyaku…

Wajah mereka yang memang kelihatan jutek kalau melihat aku tiba-tiba berubah semakin menyeramkan dengan wajah penuh kebencian… tiba-tiba salah seorang dari mereka menyerangku dengan balok kayu ditangannya… “hiaa!!” serunya…

Beruntung aku berhasil menghindar dari serangannya… Buk.!! pentungannya mengenai tumpukan kerdus di sampingku… “eh… kenapa lo..?!” tanyaku terkejut…

Dan kemudian mereka semua, para geng itu menyerangku bersama-sama… mereka mengeroyokku dengan balok kayu mereka masing-masing… terjadilah kembali perkelahianku dengan mereka… perkelahian yang aku tidak mengerti duduk persoalannya…

Aku yang dengan tangan kosong dan dalam keadaan yang masih belum sepenuhnya sehat itu pun agak kewalahan melawan keroyokan mereka… tapi beruntung semuanya dapat kuatasi… meskipun aku juga sempat mendapat beberapa pukulan dari balok kayu mereka… tapi tidak sampai mengenai bagian vitalku… dan akhirnya aku berhasil merobohkan mereka semua dengan sisa-sisa kekuatanku…

“heh… kalian udah gila yah…? Aku kan cuman tanya… siapa fighter itu… kenapa trus kalian nyerang aku…” tanyaku dengan napas memburu karena kelelahan…

Tidak ada yang menjawab pertanyaanku… dan akupun mulai jengkel dan kehilangan kesabaran dengan mereka… sehingga salah satu dari mereka aku cengkram dan kuulangi lagi pertanyaanku… “heh...! lo tuli yah…! Jawab aja kenapa seh..? sapa tuh fighter…?” kataku dengan menarik kerah bajunya,..

“fighter tu… bosnya geng rival… geng yang isinya orang-orang kayak elo… mengganggu kesenangan geng lain… geng yang paling dibenci ma geng-geng lain… termasuk kami…” jawabnya… “makanya lo nyerang gue gitu…? Karena gue ditolong ma fighter gitu…?” tanyaku… kemudian dia kulepaskan…

“ah… gila lo semua…” kataku… kemudian pergi meninggalkan tempat itu…

^(-.-)^

“bagaimana…?” tanya ike…

“kamu sudah gila yah…? Kalo kamu mau nyuruh pekerjaan kayak gitu… suruh aja tuh geng sekolahmu tuh… dengan senang hati mereka pasti ngelakuinnya… palagi yang nyuruh kamu… seorang anak penguasa sekolah ini…” kataku menolak tawarannya…

“ummhhh… mungkin kata-katamu bener juga… tapi sayang aku sedang nggak mood nyuruh geng… abis mereka itu sukanya rame-rame seh… kalo kamu kan maennya sendiri… uhm…” katanya dengan tersenyum…

“hehh.. udahlah… terserah kamu… yang pasti aku gak akan melakukan pekerjaan maling kayak gitu…” kataku sembari berpaling akan pergi meninggalkannya…

“ouhhh… gitu yah… kamu tahu nggak kalo aku bisa dengan mudah ngeluarin murid di sekolah ini… bahkan tanpa diterima lagi di sekolah lain…” katanya seolah bicara sendiri…

“kamu mengancamku…?” tanyaku… “terserah kamu…” kataku kemudian… dan aku mulai melangkah meninggalkannya…

“uhm… bukan kamu… aku sedang membicarakan tentang adikmu…” katanya dengan tersenyum…

Seketika aku menghentikan langkahku kemudian berpaling dan kembali mendekatinya… “jangan ganggu adikku…” kataku dengan nada dingin…

“uhm… itu terserah kamu… aku cuman gak bisa membayangkan aja gimana hebohnya berita tentang adikmu nanti… bahwa seorang yang dikenal sangat berprestasi di kota ini… bahkan mungkin satu-satunya harapan kota ini… ternyata adalah seorang yang… umhhh… aku tidak bisa membayangkannya… pasti akan menjadi begitu menyedihkannya…” katanya dengan wajah menariknya yang seolah-olah bersedih… kemudian dia tersenyum lagi dan berkata… “kamu juga tau aku juga bisa melakukannya kan…?” tanyanya dengan tersenyum…

Aku menggenggam tanganku dengan bergetar… ingin sekali aku memukulnya… andai saja dia bukan seorang wanita… pasti dia sudah menerima pukulanku… “kamu keterlaluan ike…” kataku dengan suara bergetar…

“uhm… bagus kalau kamu sudah mengerti…” katanya dengan tersenyum…

^(-.-)^

Aku pun berhasil memasuki ruangan itu… dan mulai mencari dokumen itu… ternyata mudah saja aku menemukannya… di dalam laci diantara dokumen-dokumen lain… sepertinya sedang dipelajari… selesailah sudah… sekarang tinggal keluar dari ruangan ini… dan setelah itu semua masalahku akan berakhir… yah begitulah yang dijanjikan ike kepadaku…

Entah apa isi dokumen itu… aku tidak tahu dan aku tidak mau tahu… tapi yang jelas, kata ike… dengan dokumen itu semua masalah tentang geng di kota ini akan selesai… dan dia juga akan menjamin aku dan adikku dari segala hal yang mungkin akan membahayakan kami…

Dan ketika aku keluar dari ruangan itu… “hei… siapa kamu…?!” teriak seseorang yang sepertinya melihatku memasuki ruangan yang tidak semestinya dimasuki oleh seorang siswa… ah… seketika aku pun berlari…

“hei… tunggu...!” teriaknya, kemudian mengejarku…

Aku terus berlari hingga sampai di ujung koridor aku belok ke kanan dan memasukkan dokumen itu ke dalam tempat sampah yang telah ditentukan oleh ike… dan kemudian aku melanjutkan lariku… sedang yang mengejarku baru sampai di ujung koridor kemudian dia belok ke kanan mengejarku…

Dalam kejar-kejaran itu… ada siswa lain yang melihat kami… lalu mereka pun turut membantu mengejarku… hingga akhirnya aku kehabisan jalan… ah.. bodoh sekali aku…. Jalan buntu… tidak ada cara lain… aku harus melawan mereka…

Seorang siswa biasa saat itu yang sampai duluan berhadapan denganku… namun aneh… aku yang biasanya jago sekali bertarung saat itu seperti kehilangan kekuatan dan kemampuanku… aku tidak bisa bertarung… sehingga dengan mudahnya siswa itu meringkusku…

^(-.-)^

Aku pun akhirnya dibawa oleh polisi yang berpakaian preman karena telah terbukti mencuri dokumen yang merupakan dokumen rahasia yang sangat penting…

Sebelumnya mereka bertanya di mana aku sembunyikan dokumen itu… aku dengan jujur saja menjawab bahwa aku membuangnya di tempat sampah yang ditentukan oleh ike itu… namun setelah mereka periksa ternyata sudah tidak ada… mungkin sudah diambil ike, pikirku…

anehnya mereka tidak bertanya siapa yang menyuruhku… tapi langsung saja mereka membawaku… dan anehnya lagi mereka bukannya membawaku ke kantor polisi… melainkan ke suatu tempat di belakang sebuah gedung kosong yang tidak utuh lagi… sebagian gedung itu telah runtuh…

di sana aku digiring oleh salah seorang dari polisi yang berbadan besar dan kekar itu… giringannya sangat kasar… hingga sampai di sebuah tempat di tepi jurang yang berpagar tembok rendah… aku baru dilepaskannya…

“tuan… aku sudah membawanya…” kata polisi berkepala botak yang lebih mirip algojo itu berbicara dengan seseorang yang duduk di atas pagar tembok rendah di tepi jurang itu… sepertinya aku pernah melihat penampilan seperti itu…

Ternyata benar… itu adalah fighter… tidak mungkin aku lupa suaranya itu yang berkata… “ouh, ya… kemarilah friyan…” katanya… aku pun terkejut… “fighter…” kataku… tapi bagaimana mungkin dia tahu kalau itu aku, bahkan dia belum berpaling melihatku…

Aku pun datang kepadanya… “duduklah di sini… denganku…” katanya… akupun menuruti katanya…

“bagaimana menurutmu… pemandangan di sini indah bukan…” tanyanya… “ah… iya…” kataku, bingung… tapi memang benar katanya… pemandangan di atas sini memang indah…

“hemhhh...” gumamnya… lalu dia merubah posisi duduknya menghadap ke arahku, aku dapat melihat kacamata beningnya itu lagi… “ayo kita main dam-daman dulu…” katanya… seraya mengeluarkan selembar map permainan dam-daman… dengan bidak-bidaknya…

“ahhh…” aku sangat heran dan terkejut dengan ajakannya… tapi akupun tidak menolak… “ah..hahaha… ayo…” kataku dengan sangat bingung…

“sudah tidak usah terlalu dipikirkan… aku sudah tau semuanya kok… hahahahaahaa…” katanya dengan tertawa… “lebih baik kita tunggu saja kedatangannya dengan bermain dengan tenang sebentar…” katanya…. Yang semakin membuatku tidak mengerti apa maksud perkataannya… semakin membuatku bingung… yah… tapi mungkin itu lebih baik… pikirku…

Tiba-tiba saja di tengah permainan… “uph…” brukk… para polisi berpakaian preman yang berada di antara kami itu, mereka semua ambruk… aku sangat terkejut… apa yang terjadi..?? sepertinya mereka terkena tembakan bius, telihat di leher mereka… Sekarang hanya tinggal kami berdua… aku dan fighter saja di tempat itu…

“sudah datang rupanya…” kata fighter lalu bangkit dari tempat duduknya… akupun bangkit dari tempat dudukku… ternyata ikelah yang datang bersama dua orang yang berpakaian rapi dengan jas dan kacamata hitamnya di samping kiri dan kanannya… sepertinya mereka bodyguardnya… “ike…” seruku…

“sudah lama kakaku… bagaimana kabarmu…?” tanyanya dengan suara manja dan senyumnya seperti biasa…

“ah… baik-baik saja… begitupun denganmu bukan…?” kata fighter…

“ouh.. tentu saja begitu… tentunya kamu pun tahu sendiri bukan… dengan selangkah lebih baik darimu… itu membuktikan apa…” katanya, tetap dengan senyumnya yang menawan…

“hummhhh… baiklah… tapi tidak untuk ini ike… karena itu kembalikanlah dokumen itu…” kata fighter… ah… aku jadi ingat kembali dengan dokumen itu…

“jadi dokumen itu sudah ada padamu kan..?” tanyaku… “kalau begitu kamu harus tepati janjimu…” kataku lagi…

“ouh… jangan khawatir friyan sayang… aku pasti tepati janjiku… bahkan sebelum kamu melakukan ini untukku… memangnya kamu pikir mengapa adikmu tidak pernah diganggu oleh geng manapun… termasuk geng kolor ijo… apakah kamu pikir karena geng-geng itu tau kalau dia itu adikmu, sehingga mereka tidak berani mengganggunya karena takut akan berurusan lagi denganmu…? Padahal kamu sendiri telah dikalahkan oleh ricky, bos dari geng kolor ijo… memangnya kamu pikir kenapa…?” katanya dengan tersenyum…

“kamu tau kenapa..? karena raina atau adikmu itu adalah sahabatku… iya… dia adalah sahabatku… karena itulah tidak ada geng manapun di kota ini yang berani mengganggunya karena dia adalah sahabatku… dan aku mengatakan ini pada semua geng di kota ini… dan mereka pun tau apa konsekuensinya jika tetap berani mengganggu salah satu dari sahabatku…” katanya kemudian… “dan karena juga dia adalah sahabatku… aku juga tidak mungkin melakukan hal seperti yang pernah aku katakan padamu sebelumnya… dengan kata lain aku sudah membohongimu… uhumhumhum…” lanjutnya sambil menahan tawanya dengan tangannya…

“humh… jadi apakah kamu lebih setuju sekarang jika dokumen itu ada di tangan adikku yang mungkin memang cantik tapi sesungguhnya dia sangat berbahaya itu…?” tanya fighter sambil menyilangkan tangannya… yang aku tahu pertanyaan itu ditujukan kepadaku… “ehh…” aku hanya bisa menggumam seperti itu dengan wajah tertunduk karena sungguh bingung… “apa sebenarnya isi dokumen itu…?” kemudian aku bertanya, setelah sadar apa duduk persoalannya yang sebenarnya…

“uhmhumhumhum… sudahlah kak… jangan libatkan friyan… ini adalah masalah kita… dan kakak harus terima kekalahan… karena akulah pemenangnya…” kata ike… kemudian dia mengeluarkan dokumen yang berhasil aku curi itu… “kamu mau tahu ini isinya apa friyan…? Yang pasti isi dokumen ini bisa mengancam semua geng-geng di kota ini… sedang semua yang mereka lakukan sebenarnya adalah tanggung jawabku… karena akulah yang menyuruh mereka untuk berbuat seperti itu… mulanya hanya sekedar permainan… tapi sepertinya lama-kelamaan permainan itu menjadi tak terkendali… dan sebenarnya memang itulah yang aku inginkan… aku senang karena aku sudah puas…” katanya dengan senyumnya yang manis….

“dan sayangnya aku juga tau bahwa kakaku yang merupakan seorang polisi yang baik telah mengirim seorang mata-mata ke sekolah untuk menyelidiki hal ini… dan dia telah mengumpulkan semua catatan beserta bukti-bukti menjadi sebentuk dokumen… yah… inilah dia…” lanjutnya kemudian dengan senyum penuh kemenangan…

“jadi… dokumen itu…” kataku… tidak bisa melanjutkan…

“yah… tapi jangan khawatir… seperti janjiku padamu friyan… aku akan menyelesaikan semuanya… aku akan menghentikan bahkan aku akan membubarkan semua geng-geng di kota ini… dan tentu saja… mau tidak mau mereka pasti akan patuh… seperti halnya kamu telah patuh… karena mengapa… itu semua… karena adikmu friyan…” kata ike, kali ini dengan matanya yang terlihat sayu…

“adikmu yang telah dengan tulus… dan penuh kasih menyayangiku… sehingga aku mulai mengenal… apa itu kasih sayang… aku sangat mengagumi adikmu friyan… karena itu aku harap kejadian ini jangan sampai adikmu tahu…” katanya kemudian…

“jadi…” lanjut ike kemudian sambil mengamati dokumen itu… “seandainya masih ada geng-geng sekolah yang seperti itu lagi… baru… selanjutnya itu adalah tugasmu kak… dan aku akan berada di belakangmu untuk membantumu…” katanya lagi…

“hemhh…” fighter hanya bisa bergumam seperti itu saja… akupun hanya bisa berdiri terpaku… sepertinya kami memang benar-benar telah dikalahkan olehnya…

Lalu ike menjentikkan jarinya… tik..! dan salah satu dari bodyguardnya membawakan sebuah tabung berukuran besar berisi cairan dan meletakkan di sisi kanannya… kemudian dia menjatuhkan dokumen itu ke tabung itu… dan seketika dokumen itu melebur hancur…

Elfilo, 3 oktober 2009

sang monster batu dan si boneka cantik

Pria itu menangis setelah bangun dari tidurnya… apa yang telah terjadi hingga membuat pria itu menangis..? sang mimpilah yang telah membuat pria itu menangis... sang mimpi telah membuat pria itu menangis dengan sebuah cerita yang telah didongengkan padanya…

Sebuah cerita..? dongeng..? yang membuat pria itu menangis..? memangnya cerita dongeng seperti apa itu...??

^(-.-)^

Boneka itu imut dan cantik.. setiap anak perempuan yang melihatnya pasti akan jatuh cinta padanya… tapi mengapa dia tergeletak di sana..? di sudut jalan itu…?

Saat itu batu-batu berterbangan ke segala arah… seperti halnya sebuah bom meriam yang ditembakkan atau malah meteor yang jatuh… menghantam apapun yang mengenainya… hingga bangunan-bangunan pun jebol terkena hantaman batu-batu itu…

Yah… saat itu sedang terjadi perang… perang yang mencuat dari dalam bumi… perang para monster batu… hingga ke permukaan bumi… kediaman para manusia…

Para manusia pun kisruh… mereka berlarian ke segala arah untuk menyelamatkan diri…

Sedang boneka itu hanya diam saja di sana… dengan tetap tersenyum dia berharap akan ditemukan lagi oleh nyonyannya… dipungut dan dibawa pergi dari tempat itu…

Dan kemudian tiba-tiba ada sebongkah batu yang mengarah kepadanya… dhuarr!!!

Si boneka kaget sambil memejamkan matanya… dia pikir dirinya sudah hancur lebur… tapi ternyata tidak… ada sesosok yang besar di sana yang melindunginya… sesosok besar itu kemudian melirik ke arahnya, ke arah boneka itu…

“sedang apa kamu di sana…?” tanyanya dengan suara besarnya yang tertahan, yang ternyata dia adalah salah satu monster batu…

“uhm… aku menunggu nyonya…” jawab si boneka dengan suara kecilnya sambil tersenyum… senyum yang sungguh menawan… terasa damai sekali senyum itu… sang monster batu pun merasa nyaman dengan senyum boneka itu…

“menunggu nyonya…? Tapi sudah tidak ada orang lagi di daerah ini…” kata sang monster batu… ia kini berpaling menghadap si boneka kecil itu… lalu mengulurkan tangannya… “ikutlah denganku…” katanya dengan wajah dingin…saat itu sepertinya perang sudah selesai meninggalkan korban manusia, monster batu, dan juga reruntuhan bangunan…

“umh… kemana..?” tanya si boneka, tetap dengan senyumnya…

“… jalan-jalan…” katanya setelah beberapa saat terdiam… dengan wajah yang tetap kaku dan tidak pernah berubah…

Si boneka merasa senang karena ia memang senang jalan-jalan… “umh...!” angguk si boneka…

Lalu sang monster batu yang besar itu menggandeng si boneka cantik yang kecil itu… dalam perjalanan banyak sekali para monster batu yang lain yang tergeletak hancur, tidak utuh… dan juga darah dan mayat-mayat para manusia diantara puing-puing bangunan… seketika si boneka bergidik… ngerih.. lalu ia memeluk kaki sang monster batu… dan memejamkan matanya…

Sang monster batu seolah mengerti kalau si boneka cantik tidak mampu melihat pemandangan seperti itu… maka digendongnyalah si boneka kecil… dengan si boneka kecil menutupi wajahnya sendiri… lalu mereka melanjutkan perjalanan…

Setelah berjalan jauh dari tempat itu… mereka melewati sebuah taman bunga yang cukup luas… si boneka cantik pun mulai membuka wajahnya… “uwah… indahnya...!” serunya…

Sang monster batu seperti mengerti bahwa si boneka ingin turun dari gendongannya… lalu dia menurunkannya… si boneka cantik senang sekali… kemudian dia berlari-lari di taman itu… berputar-putar dan menari… menciumi bunga-bunga di taman itu… dan mengejar-ngejar serangga-serangga yang berterbangan di sana… sedang sang monster batu hanya diam saja melihat tingkah si boneka kecil… kemudian dia memutuskan untuk duduk di tanah…

Meski sang monster batu tidak turut bertingkah seperti si boneka kecil… namun dia seperti juga merasakan kebahagiaan seperti yang dirasakan si boneka kecil… kemudian si boneka kecil kembali kepadanya lalu mengkalungkan kalung bunga pada si monster batu… si monster batu hanya diam saja… sedang si boneka cantik tersenyum… “umh…” gumamnya… kemudian mereka melanjutkan perjalanan…

Siang itu pun berlalu… berganti malam… saat itu perjalanan mereka sampai di hutan yang gelap… sang monster batu dapat merasakan getar ketakutan si boneka kecil yang berada di gendongan pundaknya sejak memasuki hutan itu… lalu sang monster batu duduk di tanah dan menyalakan api dengan memukulkan kedua tangannya yang menimbulkan percikan api pada ranting-ranting kayu… lalu menyuruh si boneka kecil untuk tidur di pangkuannya… dan si boneka kecil pun tidur…

Begitulah perjalanan mereka hingga sampailah di suatu desa… saat itu mereka melewati sebidang kebun apel yang rindang… si boneka kecil berlari-lari di kebun itu… dan tanpa sengaja dia bertemu dengan seorang anak kecil… anak perempuan… “wuah… lucunya..!” seru anak perempuan itu… sedang si boneka cantik tersenyum melihatnya… “umh,..” gumamnya…

Tapi tiba-tiba wajah si anak perempuan yang tersenyum melihat si boneka kecil berubah menjadi ketakutan dan tiba-tiba dia berteriak… “ahhhh!!!” serunya.. kemudian berlari… meninggalkan si boneka kecil… si boneka kecil terkejut.,.. ada apa..? pikirnya…

“emhh,.. sepertinya aku menakutinya…” kata sang monster batu dengan suara beratnya yang khas… si boneka kecil kemudian menoleh ke arahnya… “umh…? Kenapa dia takut…?” tanya si boneka kecil…

“dia takut karena melihat rupaku yang buruk…” katanya… “umh.. tapi kamu kan baik…” kata si boneka kecil dengan senyumnya yang khas…

Sang monster batu tau kalau si boneka kecil sebenarnya ingin bermain dengan anak perempuan itu… “kamu senang dengannya..? kamu ingin bermain dengannya…?” tanya sang monster batu yang tak pernah tersenyum itu… “umh…” angguk si boneka kecil lemah…

“kalau begitu temuilah dia… kelihatannya dia anak yang baik…” kata sang monster batu… “ahh…!” si boneka kecil terkejut dengan perkataan sang monster batu… “kamu sendiri…?” tanya si boneka tetap dengan senyumannya…

“memangnya kamu mau dia ketakutan lagi melihatku…” jawab sang monster batu… “pergilah… mungkin sampai di sini saja jalan-jalan kita… tapi kalau nanti kamu mau jalan-jalan denganku lagi… hentakkan saja kakimu ke tanah tiga kali sambil memanggilku tanpa bersuara…” kata sang monster batu… “dan satu hal lagi… jadilah teman bermain yang baik yah…” tambahnya kemudian…

“tapi..?” si boneka kecil ragu-ragu… “pergilah…” kata sang monster batu…

Seketika si boneka kecil yang cantik itu memeluk kaki sang monster batu yang besar… “umhh… iya…” katanya… kemudian dia pergi meninggalkan sang monster batu…

Si boneka kecil pun bertemu kembali dengan anak perempuan itu… lalu anak perempuan itu memungutnya dan membawanya pulang ke rumah… sementara di kejauhan sang monster batu hanya bisa memandangnya dengan tubuh kaku dan wajah dinginnya… setelah itu dia pergi menuju ke kedalaman tanah tempat kegelapan hatinya…

^(-.-)^

Seperti itulah kiranya dongeng yang telah diceritakan sang mimpi kepada pria itu…

Seperti itu…? Cerita itu mungkin memang terdengar sedih… tapi aku masih belum bisa mengerti bagaimana mungkin hanya dengan mendengar cerita seperti itu sampai membuat pria itu menangis terisak-isak seperti itu… aku tidak habis pikir…

Engkau tahu mengapa…?

Karena setiap airmata yang tidak diteteskan oleh sang monster batu ataupun si boneka kecil yang cantik dialah yang menggantikannya… karena sang monster batu ataupun si boneka kecil yang cantik tidak akan pernah meneteskan airmata… meski seberapa sedih atau bahagia pun yang mereka alami… sedang cerita yang baru saja diceritakan hanyalah sebagian cerita dari perjalanan mereka saja… engkau bahkan tidak tau seberapa panjang dan lamanya sebenarnya perjalanan mereka… apasaja sebenarnya yang telah mereka lalui bersama selain dalam cerita itu… seberapa dekatnya antara sang monster batu dengan si boneka kecil…

Dan.. yang paling membuat pria itu lebih tersiksa hingga dia menangis sampai seperti itu adalah… sang mimpi tidak hanya sekedar menceritakan dongeng itu saja kepadanya… tapi sang mimpi juga telah menuliskannya dengan mengukirkan kisah itu di dinding-dinding hati pria itu… sedang setiap ukirannya akan mengalirkan darah yang begitu pedihnya…

Sekarang apakah engkau mengerti…?

Elfilo, 1 oktober 2009

Geng-geng kota

1

“duh.. kebelet pipis…!” akupun berlari menuju toilet sekolah... dan tanpa sengaja aku menabrak seseorang di sana…

“Aduh.. maaf… aku dah kebelet…” kataku… namun ketika aku akan melanjutkan langkahku, aku ditariknya… “he..! lo jalan pake mata dong…!” kata anak itu… “karena lo udah tabrak gue… lo harus bayar dulu…!” katanya…

“hah…! Bayar..? enak aja… emang aku bikin cacat kamu apa..?!” kataku… sambil menahan rasa ingin buang air kecilku…

“eh… kurang ajar nih anak..! belon tau sapa gue…?!” bentaknya… “tau… lo orang yang pengen gue kencingin! Orang udah kebelet gini…! Setan lu..!!” kataku tak kalah dengan bentakannya…

“oh… lu cari gara-gara ma gue ya..!” seketika dia memukulku… tapi pukulannya dapat kutangkis,.. dan aku balik memukul mukanya… dengan telak dia pun sampai terjatuh di lantai… lalu tanpa memperdulikannya aku lanjutkan langkahku ke toilet dengan sedikit berlari…

Setelah selesai aku membuang hajat dan keluar dari toilet… anak laki-laki itu ternyata sedang menungguku di luar,.. rupanya dia tidak terima dengan pukulanku di mukanya… Dan tanpa bicara dia langsung menyerangku… maka terjadilah perkelahianku itu…

anak itu kalah…. Tapi ternyata tidak berakhir sampai di situ… di luar sekolah dia mengajak teman-temannya satu geng untuk mengeroyokku… aku yang memiliki bekal beladiri yang cukup tidak merasa takut ataupun khawatir dengan itu… dan benar… aku dapat mengalahkan mereka semua, meskipun mereka main keroyok… saat itu jumlah mereka ada 10 orang…

begitulah awalnya… di kota yang memiliki peringkat nomer wahid sepropinsi untuk tindak kriminal para pelajarnya ini aku menjalani hari-hariku… bukan hal yang aneh jika di setiap sekolah sma di kota ini memiliki geng-gengnya masing-masing, bukan geng yang positif tapi geng yang lebih menjurus ke arah negatif termasuk di sekolahku ini… karena aku mampu mengalahkan geng di sekolahku itu akupun sebenarnya ditunjuk untuk menjadi pemimpin mereka… tapi aku menolak… aku tidak mau berurusan dengan mereka…

tapi ternyata kenyataan berkata lain… aku yang sebenarnya tidak ingin terlibat sesuatu hal sekecil apapun dengan para geng itu baik geng di sekolahku terlebih geng di sekolah lain… bagiku cukup kejadian perkelahianku dengan geng di sekolahku itu saja menjadi urusan terakhir dengan mereka…

tapi ternyata tidak… aku seringkali berurusan dengan mereka… dari geng satu ke geng-geng yang lainnya… semuanya memang dapat kuselesaikan dengan kemenanganku berkelahi dengan mereka… entah urusan apa saja itu… aku sampai tidak bisa memahaminya… kenapa mereka senang sekali berkelahi… bahkan sampai menggunakan senjata tajam seperti itu… sedang aku meskipun dengan tangan kosong aku dapat mengalahkan mereka…

hingga menjadi terkenallah aku di antara para geng itu… seringkali aku menjadi bahan pembicaraan mereka… bahkan ada yang ingin meminta jasaku untuk mengalahkan geng lain yang merupakan musuhnya… tapi aku menolak… dan aku balik mengancam mereka untuk tidak menggangguku lagi… dengan begitu tidak ada lagi geng yang berani menggangguku…

sedang jika aku melihat para geng itu melakukan sesuatu yang tidak sepatutnya atau aku benci… tentu saja aku tidak tinggal diam… terlebih jika itu tindakan kriminal… dan seringkali mereka menghentikan tindakan mereka itu sebelum aku turun tangan dan mereka lantas pergi…

begitulah aku seperti sesosok momok menakutkan bagi mereka para geng itu… namun di sisi lain aku seperti sesosok malaikat penolong bagi mereka yang sering menjadi korban para geng itu…

mungkin aku sudah menghadapi seluruh geng di kota ini… dan seluruh geng di kota ini pasti tau siapa aku… tapi ternyata aku keliru… aku yang sebelumnya berpikir bahwa semua geng di kota ini adalah geng yang selalu mengarah ke hal yang negatif… bahwa semua geng di kota ini adalah geng yang jahat… tapi ternyata itupun aku keliru… ternyata ada satu geng di kota ini… yang meskipun penampilan mereka sama seperti halnya geng-geng lainnya… tapi ternyata mereka bukanlah geng seperti halnya geng yang lainnya… bahkan mereka adalah lawan dari geng-geng yang lainnya seperti halnya aku sering melawan mereka, para geng yang sering berbuat onar itu…

^(-.-)^

suatu kali saat pulang sekolah… aku lewat jalan lain yang belum pernah aku lewati selama ini… sengaja karena aku ingin mampir dulu ke rumah temanku untuk mengembalikan buku yang lupa aku kembalikan padanya, semestinya aku kembalikan padanya kemarin… aduh… dia pasti marah padaku… karena dia sangat memerlukannya…

dalam perjalanan aku melihat segerombolan anak laki-laki yang memakai pakaian sma sedang mengerumuni dua orang anak perempuan yang kelihatannya ketakutan… aku tau… mereka adalah geng salah satu sekolah yang sering sekali mengganngu anak perempuan… akupun tidak mungkin tinggal diam melihat hal itu…

“ada apa ini…?” seketika aku menghentikan tawa geng itu yang kelihatannya sedang menikmati perbuatan mereka…

“lo lagi…” kata seorang dari geng itu… “mending lo jangan sok jadi pahlawan kesiangan deh…” katanya…

Aku menerobos kerumunan mereka, berada di tengah mereka lalu menarik lengan kedua anak perempuan itu untuk menjauhkan dari mereka… beberapa diantara mereka berusaha menghalangi apa yang aku lakukan… tapi dengan beberapa jurus aku langsung menjatuhkan mereka… lalu menyuruh kedua anak perempuan itu pergi dari tempat itu…

Plak… plak… plak… “hebat… hebat… jadi ini… sang pahlawan itu…” seseorang tiba-tiba keluar dari lorong gang dengan bertepuk tangan untukku… aku belum pernah melihat dia sebelumnya bersama geng ini… tapi sepertinya dia adalah bagian dari geng tersebut…

Terlihat dengan kedatangannya dengan senyum di wajahnya, di sambut dengan senyum di wajah teman-temannya yang lain… penampilannya kelihatan rapi memakai kacamata hitam… sangat berbeda dengan penampilan teman-temannya yang lain…

“kali ini lo bakalan bener-bener nyesel udah berani-berani ama kami… geng kolor ijo… iya nggak temen-temen… huahuahuahuahuahuahua…” kata salah seorang di antaranya dan disambut tawa yang lainnya… sedang aku hanya diam saja menyaksikan mereka…

“uph..!” tiba-tiba anak yang berpakaian rapi itu memukul anak yang berkata-kata tadi… dan yang lainnya pun terdiam… akupun terkejut dengan apa yang dia lakukan…

“umhhh… perkenalkan… namaku ricky… aku adalah pemimpin geng ini…” katanya sambil melepaskan kacamata hitamnya dan disambut oleh anak buahnya… “dan aku sudah lama mendengar namamu… tapi baru sekarang aku mendapatkan kesempatan bertemu secara langsung denganmu… merupakan suatu kehormatan kalau kamu mau sedikit bersenang-senang denganku… dengan keahlianmu tentunnya… hummhh..?” katanya melirikku dengan mengangkat alisnya… menantangku…

“sebenarnya aku tidak punya waktu… ada hal lain yang lebih penting yang harus kuselesaikan..” kataku sambil berpaling, berniat akan meninggalkan mereka… tapi tiba-tiba ricky menyerangku secara langsung… namun secepat kilat secara refleks aku pun langsung menangkis serangannya… dan terjadilah pertarunganku dengannya saat itu…

Ternyata ricky tidak bisa dianggapa remeh… dia sungguh lawan yang sangat kuat dan tangguh… jurus-jurusnya pun mematikan… aku sampai kewalahan melawannya… baru kali ini aku bertarung dengan seseorang yang seimbang atau malah mungkin lebih dari aku… karena ketika aku merasa mulai kelelahan,.. aku melihat ricky masih begitu segar dan santainya… dan pada kesekian jurus kemudian… “ugh…” aku terkena pukulan di ulu hatiku… begitu kuat sampai aku tidak bisa bernafas…

Dan beberapa jurus kemudian… brugh..! “ugh…” mulutku berdarah dan dia berhasil menjatuhkanku…

Ah… seketika pandanganku kabur… “hemh… ternyata Cuma segini kemampuan orang yang sering menjadi buah bibir para geng di kota ini… heh..?!” katanya mengejekku…

“hidup bos..!!” teriak salah seorang anggota geng… “memang geng-geng di kota ini semuanya cuman pecundang… “terbukti… orang yang mereka takuti ternyata tidak ada apa-apanya dengan bos…” katanya… “hidup bos…!!” teriak yang lainnya…

Sedang aku masih bisa bertahan… mencoba untuk bangkit kembali… aku mencoba untuk mengatur nafas dan memulihkan keadaanku kembali… “hup...!” aku mencoba mengumpulkan tenaga dalamku… “huhhh…”

Aku berdiri kembali… “hemh… masih kuat juga rupanya…” katanya meremehkanku…

Aku dalam posisi siap bertarung kembali memasang kuda-kuda… dia pun juga melakukannya… “hiat..!” seruku menyerang duluan… dan terjadilah kembali pertarunganku dengannya…

Namun kondisiku yang sudah kurang fit, sedang kondisi ricky yang masih nampak segar dan santainya sehingga hanya dalam beberapa jurus saja aku tersungkur kembali… “argh..!!!” kali ini tendangan ricky menghantam dengan telak wajahku… dan dengan bertubi-tubi dia menghantam perut, punggung dan tulang rusukku…

Brugh,..! aku kembali tersungkur dengan wajah berlumuran darah… dan aku mulai kehilangan kesadaran…

Bersambung…

penasaran mau tau kelanjutannya...?
tunggu aja yah...
jangan lupa komentarnya...
huehueheuheueheheheueu... v ^.^