Geng-geng kota (2)

2

“bagaimana keadaanmu…?” tanya pria berkacamata bening itu, menanyakan keadaanku yang saat itu sedang terbaring di rumah sakit… “sudah mendingan…” jawabku… “baguslah…” katanya kemudian,..

“jadi kamu yang sering bertarung dan dibicarakan para geng-geng itu ya…?” tanyanya… “ah… sebenarnya aku tidak mau berurusan dengan mereka… hanya saja aku tidak bisa tinggal diam saja jika ada orang yang membutuhkan pertolongan…” jawabku… “oh… begitu…” katanya kemudian…

“ya sudah… sepertinya keadaanmu sudah cukup baikan… kalau begitu aku mau pergi dulu…” katanya seraya bangkit dari tempat duduknya kemudian berpaling akan meninggalkan ruangan itu…

“hei..! tunggu dulu… siapa kamu...?” tanyaku… “paling tidak aku ingin tahu siapa nama orang yang telah menolongku, kalaupun mungkin aku tidak bisa membalas kebaikannya…” lanjutku lagi…

“hummhhh… mereka memanggilku… fighter…” jawabnya… kemudian pergi meninggalkan ruangan itu…

^(-.-)^

Pria itu bilang ‘mereka’… berarti para geng-geng kota pasti tahu siapa dia… maka aku putuskan untuk mencari tahu siapa pria itu dengan bertanya pada geng sekolahku saja… Akupun menuju markas mereka yang merupakan gudang sekolah…

Setibanya di sana mereka terkejut melihatku… “eh… lo..! mau apa lagi lo…?” tanya salah seorang dari mereka ketus dengan wajah juteknya… “nggak… aku cuman mau tanya aja ko… kenapa..? nggak boleh tah…?”

“denger-denger… lo dikalahin ma ricky yah…? Bosnya geng kolor ijo… huahuahuahua… akhirnya sang jagoan ambruk juga…” kata salah seorang yang lain… “tapi… ko, lo belum mampus sih...? banyak juga nyawa lo...” lanjutnya lagi…

“yah… bener… tapi terus aku ditolong ma seseorang… aku tanya siapa dia… dia bilang… ‘mereka panggil aku fighter’ gtu…” kataku…

“hah..! fighter…” kata salah seorang diantara mereka, dan sepertinya wajah teman-temannya pun tampak terkejut mendengar nama itu…

“kenapa…? Kalian kenal yah ma dia...? umhh… mang siapa seh dia...?” tanyaku…

Wajah mereka yang memang kelihatan jutek kalau melihat aku tiba-tiba berubah semakin menyeramkan dengan wajah penuh kebencian… tiba-tiba salah seorang dari mereka menyerangku dengan balok kayu ditangannya… “hiaa!!” serunya…

Beruntung aku berhasil menghindar dari serangannya… Buk.!! pentungannya mengenai tumpukan kerdus di sampingku… “eh… kenapa lo..?!” tanyaku terkejut…

Dan kemudian mereka semua, para geng itu menyerangku bersama-sama… mereka mengeroyokku dengan balok kayu mereka masing-masing… terjadilah kembali perkelahianku dengan mereka… perkelahian yang aku tidak mengerti duduk persoalannya…

Aku yang dengan tangan kosong dan dalam keadaan yang masih belum sepenuhnya sehat itu pun agak kewalahan melawan keroyokan mereka… tapi beruntung semuanya dapat kuatasi… meskipun aku juga sempat mendapat beberapa pukulan dari balok kayu mereka… tapi tidak sampai mengenai bagian vitalku… dan akhirnya aku berhasil merobohkan mereka semua dengan sisa-sisa kekuatanku…

“heh… kalian udah gila yah…? Aku kan cuman tanya… siapa fighter itu… kenapa trus kalian nyerang aku…” tanyaku dengan napas memburu karena kelelahan…

Tidak ada yang menjawab pertanyaanku… dan akupun mulai jengkel dan kehilangan kesabaran dengan mereka… sehingga salah satu dari mereka aku cengkram dan kuulangi lagi pertanyaanku… “heh...! lo tuli yah…! Jawab aja kenapa seh..? sapa tuh fighter…?” kataku dengan menarik kerah bajunya,..

“fighter tu… bosnya geng rival… geng yang isinya orang-orang kayak elo… mengganggu kesenangan geng lain… geng yang paling dibenci ma geng-geng lain… termasuk kami…” jawabnya… “makanya lo nyerang gue gitu…? Karena gue ditolong ma fighter gitu…?” tanyaku… kemudian dia kulepaskan…

“ah… gila lo semua…” kataku… kemudian pergi meninggalkan tempat itu…

^(-.-)^

“bagaimana…?” tanya ike…

“kamu sudah gila yah…? Kalo kamu mau nyuruh pekerjaan kayak gitu… suruh aja tuh geng sekolahmu tuh… dengan senang hati mereka pasti ngelakuinnya… palagi yang nyuruh kamu… seorang anak penguasa sekolah ini…” kataku menolak tawarannya…

“ummhhh… mungkin kata-katamu bener juga… tapi sayang aku sedang nggak mood nyuruh geng… abis mereka itu sukanya rame-rame seh… kalo kamu kan maennya sendiri… uhm…” katanya dengan tersenyum…

“hehh.. udahlah… terserah kamu… yang pasti aku gak akan melakukan pekerjaan maling kayak gitu…” kataku sembari berpaling akan pergi meninggalkannya…

“ouhhh… gitu yah… kamu tahu nggak kalo aku bisa dengan mudah ngeluarin murid di sekolah ini… bahkan tanpa diterima lagi di sekolah lain…” katanya seolah bicara sendiri…

“kamu mengancamku…?” tanyaku… “terserah kamu…” kataku kemudian… dan aku mulai melangkah meninggalkannya…

“uhm… bukan kamu… aku sedang membicarakan tentang adikmu…” katanya dengan tersenyum…

Seketika aku menghentikan langkahku kemudian berpaling dan kembali mendekatinya… “jangan ganggu adikku…” kataku dengan nada dingin…

“uhm… itu terserah kamu… aku cuman gak bisa membayangkan aja gimana hebohnya berita tentang adikmu nanti… bahwa seorang yang dikenal sangat berprestasi di kota ini… bahkan mungkin satu-satunya harapan kota ini… ternyata adalah seorang yang… umhhh… aku tidak bisa membayangkannya… pasti akan menjadi begitu menyedihkannya…” katanya dengan wajah menariknya yang seolah-olah bersedih… kemudian dia tersenyum lagi dan berkata… “kamu juga tau aku juga bisa melakukannya kan…?” tanyanya dengan tersenyum…

Aku menggenggam tanganku dengan bergetar… ingin sekali aku memukulnya… andai saja dia bukan seorang wanita… pasti dia sudah menerima pukulanku… “kamu keterlaluan ike…” kataku dengan suara bergetar…

“uhm… bagus kalau kamu sudah mengerti…” katanya dengan tersenyum…

^(-.-)^

Aku pun berhasil memasuki ruangan itu… dan mulai mencari dokumen itu… ternyata mudah saja aku menemukannya… di dalam laci diantara dokumen-dokumen lain… sepertinya sedang dipelajari… selesailah sudah… sekarang tinggal keluar dari ruangan ini… dan setelah itu semua masalahku akan berakhir… yah begitulah yang dijanjikan ike kepadaku…

Entah apa isi dokumen itu… aku tidak tahu dan aku tidak mau tahu… tapi yang jelas, kata ike… dengan dokumen itu semua masalah tentang geng di kota ini akan selesai… dan dia juga akan menjamin aku dan adikku dari segala hal yang mungkin akan membahayakan kami…

Dan ketika aku keluar dari ruangan itu… “hei… siapa kamu…?!” teriak seseorang yang sepertinya melihatku memasuki ruangan yang tidak semestinya dimasuki oleh seorang siswa… ah… seketika aku pun berlari…

“hei… tunggu...!” teriaknya, kemudian mengejarku…

Aku terus berlari hingga sampai di ujung koridor aku belok ke kanan dan memasukkan dokumen itu ke dalam tempat sampah yang telah ditentukan oleh ike… dan kemudian aku melanjutkan lariku… sedang yang mengejarku baru sampai di ujung koridor kemudian dia belok ke kanan mengejarku…

Dalam kejar-kejaran itu… ada siswa lain yang melihat kami… lalu mereka pun turut membantu mengejarku… hingga akhirnya aku kehabisan jalan… ah.. bodoh sekali aku…. Jalan buntu… tidak ada cara lain… aku harus melawan mereka…

Seorang siswa biasa saat itu yang sampai duluan berhadapan denganku… namun aneh… aku yang biasanya jago sekali bertarung saat itu seperti kehilangan kekuatan dan kemampuanku… aku tidak bisa bertarung… sehingga dengan mudahnya siswa itu meringkusku…

^(-.-)^

Aku pun akhirnya dibawa oleh polisi yang berpakaian preman karena telah terbukti mencuri dokumen yang merupakan dokumen rahasia yang sangat penting…

Sebelumnya mereka bertanya di mana aku sembunyikan dokumen itu… aku dengan jujur saja menjawab bahwa aku membuangnya di tempat sampah yang ditentukan oleh ike itu… namun setelah mereka periksa ternyata sudah tidak ada… mungkin sudah diambil ike, pikirku…

anehnya mereka tidak bertanya siapa yang menyuruhku… tapi langsung saja mereka membawaku… dan anehnya lagi mereka bukannya membawaku ke kantor polisi… melainkan ke suatu tempat di belakang sebuah gedung kosong yang tidak utuh lagi… sebagian gedung itu telah runtuh…

di sana aku digiring oleh salah seorang dari polisi yang berbadan besar dan kekar itu… giringannya sangat kasar… hingga sampai di sebuah tempat di tepi jurang yang berpagar tembok rendah… aku baru dilepaskannya…

“tuan… aku sudah membawanya…” kata polisi berkepala botak yang lebih mirip algojo itu berbicara dengan seseorang yang duduk di atas pagar tembok rendah di tepi jurang itu… sepertinya aku pernah melihat penampilan seperti itu…

Ternyata benar… itu adalah fighter… tidak mungkin aku lupa suaranya itu yang berkata… “ouh, ya… kemarilah friyan…” katanya… aku pun terkejut… “fighter…” kataku… tapi bagaimana mungkin dia tahu kalau itu aku, bahkan dia belum berpaling melihatku…

Aku pun datang kepadanya… “duduklah di sini… denganku…” katanya… akupun menuruti katanya…

“bagaimana menurutmu… pemandangan di sini indah bukan…” tanyanya… “ah… iya…” kataku, bingung… tapi memang benar katanya… pemandangan di atas sini memang indah…

“hemhhh...” gumamnya… lalu dia merubah posisi duduknya menghadap ke arahku, aku dapat melihat kacamata beningnya itu lagi… “ayo kita main dam-daman dulu…” katanya… seraya mengeluarkan selembar map permainan dam-daman… dengan bidak-bidaknya…

“ahhh…” aku sangat heran dan terkejut dengan ajakannya… tapi akupun tidak menolak… “ah..hahaha… ayo…” kataku dengan sangat bingung…

“sudah tidak usah terlalu dipikirkan… aku sudah tau semuanya kok… hahahahaahaa…” katanya dengan tertawa… “lebih baik kita tunggu saja kedatangannya dengan bermain dengan tenang sebentar…” katanya…. Yang semakin membuatku tidak mengerti apa maksud perkataannya… semakin membuatku bingung… yah… tapi mungkin itu lebih baik… pikirku…

Tiba-tiba saja di tengah permainan… “uph…” brukk… para polisi berpakaian preman yang berada di antara kami itu, mereka semua ambruk… aku sangat terkejut… apa yang terjadi..?? sepertinya mereka terkena tembakan bius, telihat di leher mereka… Sekarang hanya tinggal kami berdua… aku dan fighter saja di tempat itu…

“sudah datang rupanya…” kata fighter lalu bangkit dari tempat duduknya… akupun bangkit dari tempat dudukku… ternyata ikelah yang datang bersama dua orang yang berpakaian rapi dengan jas dan kacamata hitamnya di samping kiri dan kanannya… sepertinya mereka bodyguardnya… “ike…” seruku…

“sudah lama kakaku… bagaimana kabarmu…?” tanyanya dengan suara manja dan senyumnya seperti biasa…

“ah… baik-baik saja… begitupun denganmu bukan…?” kata fighter…

“ouh.. tentu saja begitu… tentunya kamu pun tahu sendiri bukan… dengan selangkah lebih baik darimu… itu membuktikan apa…” katanya, tetap dengan senyumnya yang menawan…

“hummhhh… baiklah… tapi tidak untuk ini ike… karena itu kembalikanlah dokumen itu…” kata fighter… ah… aku jadi ingat kembali dengan dokumen itu…

“jadi dokumen itu sudah ada padamu kan..?” tanyaku… “kalau begitu kamu harus tepati janjimu…” kataku lagi…

“ouh… jangan khawatir friyan sayang… aku pasti tepati janjiku… bahkan sebelum kamu melakukan ini untukku… memangnya kamu pikir mengapa adikmu tidak pernah diganggu oleh geng manapun… termasuk geng kolor ijo… apakah kamu pikir karena geng-geng itu tau kalau dia itu adikmu, sehingga mereka tidak berani mengganggunya karena takut akan berurusan lagi denganmu…? Padahal kamu sendiri telah dikalahkan oleh ricky, bos dari geng kolor ijo… memangnya kamu pikir kenapa…?” katanya dengan tersenyum…

“kamu tau kenapa..? karena raina atau adikmu itu adalah sahabatku… iya… dia adalah sahabatku… karena itulah tidak ada geng manapun di kota ini yang berani mengganggunya karena dia adalah sahabatku… dan aku mengatakan ini pada semua geng di kota ini… dan mereka pun tau apa konsekuensinya jika tetap berani mengganggu salah satu dari sahabatku…” katanya kemudian… “dan karena juga dia adalah sahabatku… aku juga tidak mungkin melakukan hal seperti yang pernah aku katakan padamu sebelumnya… dengan kata lain aku sudah membohongimu… uhumhumhum…” lanjutnya sambil menahan tawanya dengan tangannya…

“humh… jadi apakah kamu lebih setuju sekarang jika dokumen itu ada di tangan adikku yang mungkin memang cantik tapi sesungguhnya dia sangat berbahaya itu…?” tanya fighter sambil menyilangkan tangannya… yang aku tahu pertanyaan itu ditujukan kepadaku… “ehh…” aku hanya bisa menggumam seperti itu dengan wajah tertunduk karena sungguh bingung… “apa sebenarnya isi dokumen itu…?” kemudian aku bertanya, setelah sadar apa duduk persoalannya yang sebenarnya…

“uhmhumhumhum… sudahlah kak… jangan libatkan friyan… ini adalah masalah kita… dan kakak harus terima kekalahan… karena akulah pemenangnya…” kata ike… kemudian dia mengeluarkan dokumen yang berhasil aku curi itu… “kamu mau tahu ini isinya apa friyan…? Yang pasti isi dokumen ini bisa mengancam semua geng-geng di kota ini… sedang semua yang mereka lakukan sebenarnya adalah tanggung jawabku… karena akulah yang menyuruh mereka untuk berbuat seperti itu… mulanya hanya sekedar permainan… tapi sepertinya lama-kelamaan permainan itu menjadi tak terkendali… dan sebenarnya memang itulah yang aku inginkan… aku senang karena aku sudah puas…” katanya dengan senyumnya yang manis….

“dan sayangnya aku juga tau bahwa kakaku yang merupakan seorang polisi yang baik telah mengirim seorang mata-mata ke sekolah untuk menyelidiki hal ini… dan dia telah mengumpulkan semua catatan beserta bukti-bukti menjadi sebentuk dokumen… yah… inilah dia…” lanjutnya kemudian dengan senyum penuh kemenangan…

“jadi… dokumen itu…” kataku… tidak bisa melanjutkan…

“yah… tapi jangan khawatir… seperti janjiku padamu friyan… aku akan menyelesaikan semuanya… aku akan menghentikan bahkan aku akan membubarkan semua geng-geng di kota ini… dan tentu saja… mau tidak mau mereka pasti akan patuh… seperti halnya kamu telah patuh… karena mengapa… itu semua… karena adikmu friyan…” kata ike, kali ini dengan matanya yang terlihat sayu…

“adikmu yang telah dengan tulus… dan penuh kasih menyayangiku… sehingga aku mulai mengenal… apa itu kasih sayang… aku sangat mengagumi adikmu friyan… karena itu aku harap kejadian ini jangan sampai adikmu tahu…” katanya kemudian…

“jadi…” lanjut ike kemudian sambil mengamati dokumen itu… “seandainya masih ada geng-geng sekolah yang seperti itu lagi… baru… selanjutnya itu adalah tugasmu kak… dan aku akan berada di belakangmu untuk membantumu…” katanya lagi…

“hemhh…” fighter hanya bisa bergumam seperti itu saja… akupun hanya bisa berdiri terpaku… sepertinya kami memang benar-benar telah dikalahkan olehnya…

Lalu ike menjentikkan jarinya… tik..! dan salah satu dari bodyguardnya membawakan sebuah tabung berukuran besar berisi cairan dan meletakkan di sisi kanannya… kemudian dia menjatuhkan dokumen itu ke tabung itu… dan seketika dokumen itu melebur hancur…

Elfilo, 3 oktober 2009

Tidak ada komentar:

Posting Komentar